“When I find myself in times of trouble, Mother Mary comes to me...”Kalimat pembuka ini terdengar seperti doa — seruan hati dari seseorang yang sedang gelisah. Dan memang, begitulah lagu ini lahir: dari mimpi Paul McCartney.
Pada akhir dekade 1960-an, The Beatles sedang berada di ujung tanduk. Hubungan antar anggotanya semakin renggang, terutama antara Paul dan John. Suasana studio penuh ketegangan. Di tengah kekacauan itu, Paul bermimpi tentang ibunya — Mary McCartney — yang sudah wafat sejak ia berusia 14 tahun.
Dalam mimpi itu, sang ibu muncul dengan wajah tenang dan berkata,
“Let it be.”Biarkan saja. Jangan dilawan. Terima, dan biarkan semuanya mengalir.
Kata-kata itu membekas kuat dalam diri Paul. Ia merasa ditenangkan. Tidak lama setelahnya, ia menulis lagu ini — sederhana, jujur, dan mengalir dari pengalaman batin yang mendalam.
Menariknya, banyak orang menyangka bahwa “Mother Mary” dalam lagu ini adalah Bunda Maria. Tapi Paul berkali-kali menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah ibunya sendiri, Mary Patricia McCartney.
Lagu ini mulai direkam pada awal 1969, saat The Beatles sedang mengerjakan proyek film dan album yang awalnya bernama Get Back. Proyek itu akhirnya berubah nama menjadi Let It Be. Lagu ini melalui beberapa versi, termasuk aransemen ulang oleh Phil Spector, yang menambahkan orkestra dan harmoni paduan suara.
🕊️
Dan saat diriku gelisah, Ibu Mary datang padaku...Mengucapkan kata-kata bijak: Let it be.
No comments:
Post a Comment